LAPORAN
PENDAHULUAN
STUDI
KASUS II
DIAGNOSA
BRONKOPNEUMONIA

Oleh :
Nama : Kristina
Mensi Eva
Nim : 2013.C.05a.0495
YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI S1 KEPERAWATAN
2013/2014
KONSEP BRONKOPNEUMONIA
A.
PENGERTIAN
Bronchopneumonia adalah
radang pada paru-paru yang mempunyai penyebaran berbercak, teratur dalam satu
area atau lebih yang berlokasi di dalam bronki dan meluas ke parenkim paru (
Brunner dan Suddarth, 2001 ).
Bronchopneumonia adalah
radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai
dengan adanya bercak-bercak Infiltrat ( Whalley and wong 1996 ).
Bronchopneumonia adalah
frekuensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya
biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan meningkat ( Suzanne G.
Bare, 1993 ).
Bronchopneumonia
disebut juga pneumonia lobularis, yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh
bakteri,virus, jamur dan benda-benda asing ( Sylvia Anderson,1994 ). Dari
beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan, bronkopneumonia adalah radang
paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan
adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan leh bakteri, virus, jamur dan
benda asing.
Penyakit ini sering
bersifat sekunder, menyertai infeksi saluran pernafasan atas, demam infeksi
yang spesifik dan penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh.
B. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN
a.
Anatomi
Sistem pernapasan terdiri atas:
·
Hidung
Merupakan saluran udara yang pertama, berfungsi
mengalirkan udara ke dan dari paru-paru. Jalan naps ini berfungsi sebagai
penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirupkan ke
dalam paru-paru.
·
Faring atau tenggorokan
Struktur seperti tuba yang menghubungkan
hidung dan rongga mulut ke laring. Faring dibagi menjadi tiga region :
nasofaring,orofaring dan laringgofaring.
·
Laring
Sturktur epitel kartilago yang
menghubungkan faring dan trakea. Fungsi utama laring adalah untuk memungkin
terjadinya vokalisasi, melindungi jalan napas bawah dari obstruksi benda asing
dan memudahkan batuk. Laring sering juga disebut sebagai kotak suara. Dan
terdiri atas : epiglotis,glotis,kartilago tiroid, kartilago krikoid, kartilago
aritenoid dan pita suara.
·
Trakea
Merupakan lanjutan dari laring yang di
bentuk oleh 16-20 cincin yang dari tulang-tulang rawan.
·
Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea terdiri
dari bronkus kiri dan kanan.
·
Paru-paru
Merupakan sebuah alat tubuh yang
sebagian besar tediri dari gelembung alveoli. Paru-paru di bagi menjadi 2
bagian yaitu : paru-paru kanan dan kiri , dimana paru-paru kanan terdiri atas 3
lobus dan paru-paru kiri terdiri 2 lobus.
b.
Fisiologi
Proses pernapasan paru merupakan
pertukaran oksigen dan karbondioksida yang terjadi pada paru-paru. Proses ini
terdiri dari 3 tahap yaitu :
·
Ventilasi
Ventilasi merupakan proses dan masuknya
oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Ada dua
gerakan pernapasan yang terjadi sewaktu pernapasan, yaitu inspirasi dan
ekspirasi.
·
Difusi gas
Difusi gas merupakan pertukaran antara
oksigen di alveoli dengan kapiler paru dan CO2 di kapiler dengan alveoli.
Proses pertukaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu luasnya permukaan
paru, tebal membran respirasi, dan perbedaan tekanan dan konsentrasi O2.
·
Transportasi gas
Transportasi gas merupakan proses
pendistribusian O2 kapiler ke jaringan tubuh dan CO1 jaringan tubuh ke kapiler.
Transportasi gas dipengaruhi oleh beberapa faktor, curah jantung, kondisi
pembuluh darah, latihan, eritrosit dan Hb.
C. ETIOLOGI
Pada
umumnya tubuh terserang Bronchopneumonia karena disebabkan oleh penurunan
mekanisme pertahan tubuh terhadap virulensi organismepatogen. Penyebab
Bronchopneumonia yang biasa ditemukan adalah :
1. Bakteri
: Diplococus Pneumonia, pneumococcus,
stretococcus hemoliticus aureus, haemophilus influenza, basilus friendlander,
mycobacterium tuberculosis.
2. Virus
: Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.
3. Jamur
: citoplasma capsulatum, criptococcus nepromas, blastomices dermatides,
aspergillus Sp, candinda albicans,Mycoplasma pneumonia. Aspirasi benda asing..
4. Faktor
lain yang mempengaruhi timbulnya Bronchopnemonia adalah:
a). Faktor predisposisi
·
Usia / umur
·
Genetika
b). Faktor pencetus
·
Gizi buruk/ kurang
·
Berat badan lahir rendah ( BBLR)
·
Tidak mendapatkan ASI yang memadai
·
Imunisasi yang tidak lengkap
·
Polusi udara
·
Kepadatan tempat tinggal
D. PATOFISIOLOGI
Bronkopneumonia
merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh virus penyebab
bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan
broncus dan alveolus dan jaringan sekitarnya. Inflamasi pada bronkus ditandai
adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktof, ronchi
positif dan mual. Setelah itu
mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang
meliputi empat stadium, yaitu :
A. Stadium
I ( 4-12 jam )
Disebut hiperemia, mengacu pada respon
peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini
ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat
infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan
dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan.
Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel
mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin
dan prostaglamdin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan
permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke
dalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan adema antar kapiler
dan alveolus. Penimbunan cairan diantara kapiler dan alveolus meningkatkan
jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbndioksida maka perpindahan gas
ini dalam darah paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi
oksigen hemoglobin.
B. Stadium
II/ hepatisasi (48 jam berikutnya)
Disebut hepatisasi merah, terjadi
sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang
dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagian bagian dari reaksi peradangan. Lobus
yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit,eritrosit,
dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar,
pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan
bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.
C. Stadium
III/ hepatisasi kelabu ( 3-8 hari )
Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi
sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada
saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi
fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai
diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna
merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.
D. Stadium
IV/ resolusi ( 7-11hari )
Disebut juga stadium resolusi yang
terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan
eksudat lisis dan absorsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke
strukturnya semula. Inflamasi pada bronkus ditandai adanya penumpukan sekret,
sehungga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila
penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi dalah
kolaps alveoli,fibrosis, emfisema dan atelektasis. Kolaps alveoli akan
mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan napas ronchi. Fibrosis
bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai
pelumas yang berfungsi untuk melembabkan rongga fleura. Emfisema adalah tindak lanjut dari pembedahan.
Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis
respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan
mengakibatkan terjadinya gagal napas.
E. TANDA DAN GEJALA
·
Biasanya didahului infeksi traktus
respiratoris atas.
·
Demam (390-400) kadang-kadang disertai
kejang karena demam yang tinggi.
·
Anak sangat gelisah, dan adanya nyeri
dada yang terasa ditusuk-tusuk, yang dicetuskan oleh bernapas dan batuk.
·
Pernapasan cepat dan dangkal disertai
pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut.
·
Kadang-kadang disertai muntah dan diare.
·
Adanya bunyi tambahan pernapasan seperti
ronchi, whezing.
·
Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan
hipoksia apabila infeksinya serius.
·
Ventilasi mungkin berkurang akibat
penimbunan mokus yang menyebabkan atelektasis absorbsi.
F.
PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
·
Pemeriksaan radiologi yaitu pada foto
thoraks, konsolidasi atau beberapa lobus yang berbercak-bercak infiltrat.
·
Pemeriksaan laboratorium didapati
lekositosit antara 15000 sampai 40000 /mm3. Hitung sel darah putih biasanya
meningkat kecuali apabila pasien mengalami imunodefiensi.
·
Pemeriksaan AGD ( analisa gas darah ) ,
untuk mengetahui status kardiopulmoner yang berhubungan dengan oksigen.
·
Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah
: diambil dengan biopsi jarum, untuk mengetahui mikroorganisme penyebab dan
obat yang cocok untuk menanganinya.
G. PENATALAKSANAAN
Farmakologi pemberian antibiotik G,
sreptomisin,ampicilin,gentamisin. Pemilihan jenis antibiotik didasarkan atas
umur, keadaan umum penderita, dan dugaan kuman penyebab :
1.
Umur 3 bulan- 5 tahun, bila toksis
disebabkan oleh streptokokus pneumonia hemufilus influenza atau stafilokokus.
Pada umunya tidak diketahui penyebabnya, maka secara praktis dipakai :
Kombinasi : penisilin
prokain 50.000-100.000 KI/kg/24jam IM, 1-2 kali sehari dan kloramfenikol 50-100
mg/kg/24 jam IV/ Oral, 4 kali sehari. Atau kombinasi ampisilin 50-100mg/kg/24
jam IM/IV, 4 kali sehari dan kloksasilin 50 mg/kg/24jam IM/IV, 4 kali sehari
atau kombinasi eritromisin 50 mg/kg/24jam, oral 4 kali sehari dan kloramfenikol
( dosis sama dengan diatas)
2.
Anak-anak < 5 tahun, yang non toksis,
biasanya disebabkan oleh : Streptokokus pneumonia : o penisilin prokaiin IM
atau o Fenoksimetilpenisilin 25.000-50.000 KI/24 jam oral, 4 kali sehari o
eritromisin atau o kotrimoksazol IVFD dekstrose 6/30 mg/kg/24 jam, oral 2 kali
sehari/ o oksigen 1-2 L/menit. ASI/PASI 8 x 20cc per sonde B. Non farmakologi
5% ½ NaCl 0,225% 350 %/24 jam
1. Istirahat, umunya
penderita tidak perlu dirawat, cukup istirahat dirumah.
2. Simptomatik terhadap
batuk.
3. Batuk yang produktif
jangan ditekan dengan antitusif.
4. Bila terdapat
obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris, diberikan broncodilator.
5. Pemberian oksigen umunya tidak
diperlukn, kecuali tidak diperlukan, kecuali untuk kasus berat. Antibiotik yang
paling baik adalah antibiotik yang sesuai dengan penyebabnya.
Pencegahan penyakit
bronkopneumonia dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan penderita atau
mengobati secara dini penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya
bronkopneumonia ini. Selain itu hal-hal yang dapat dilakukanadalah dengan
meningkatkan daya tahan tubuh kita terhadap berbagai penyakit saluran nafas
seperti : cara hidup sehat, makan makanan bergizi dan teratur, menjaga
kebersihan, beristirahat yang cukup, rajin olahraga, dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar