Minggu, 30 November 2014

LAPORAN PENDAHULUAN BRONKOPNEUMONIA



LAPORAN PENDAHULUAN
STUDI KASUS II
DIAGNOSA BRONKOPNEUMONIA





Oleh :
Nama : Kristina Mensi Eva
        Nim : 2013.C.05a.0495



YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI S1 KEPERAWATAN
2013/2014




KONSEP BRONKOPNEUMONIA
A.    PENGERTIAN
Bronchopneumonia adalah radang pada paru-paru yang mempunyai penyebaran berbercak, teratur dalam satu area atau lebih yang berlokasi di dalam bronki dan meluas ke parenkim paru ( Brunner dan Suddarth, 2001 ).
Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak Infiltrat ( Whalley and wong 1996 ).
Bronchopneumonia adalah frekuensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan meningkat ( Suzanne G. Bare, 1993 ).
Bronchopneumonia disebut juga pneumonia lobularis, yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri,virus, jamur dan benda-benda asing ( Sylvia Anderson,1994 ). Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan, bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan leh bakteri, virus, jamur dan benda asing.
Penyakit ini sering bersifat sekunder, menyertai infeksi saluran pernafasan atas, demam infeksi yang spesifik dan penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh.

B.     ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN
a.      Anatomi
Sistem pernapasan terdiri atas:
·         Hidung
Merupakan saluran udara yang pertama, berfungsi mengalirkan udara ke dan dari paru-paru. Jalan naps ini berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirupkan ke dalam paru-paru.
·         Faring atau tenggorokan
Struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring. Faring dibagi menjadi tiga region : nasofaring,orofaring dan laringgofaring.
·         Laring
Sturktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea. Fungsi utama laring adalah untuk memungkin terjadinya vokalisasi, melindungi jalan napas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. Laring sering juga disebut sebagai kotak suara. Dan terdiri atas : epiglotis,glotis,kartilago tiroid, kartilago krikoid, kartilago aritenoid dan pita suara.
·         Trakea
Merupakan lanjutan dari laring yang di bentuk oleh 16-20 cincin yang dari tulang-tulang rawan.
·          Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea terdiri dari bronkus kiri dan kanan.
·         Paru-paru
Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar tediri dari gelembung alveoli. Paru-paru di bagi menjadi 2 bagian yaitu : paru-paru kanan dan kiri , dimana paru-paru kanan terdiri atas 3 lobus dan paru-paru kiri terdiri 2 lobus.
b.      Fisiologi
Proses pernapasan paru merupakan pertukaran oksigen dan karbondioksida yang terjadi pada paru-paru. Proses ini terdiri dari 3 tahap yaitu :
·         Ventilasi
Ventilasi merupakan proses dan masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Ada dua gerakan pernapasan yang terjadi sewaktu pernapasan, yaitu inspirasi dan ekspirasi.
·         Difusi gas
Difusi gas merupakan pertukaran antara oksigen di alveoli dengan kapiler paru dan CO2 di kapiler dengan alveoli. Proses pertukaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu luasnya permukaan paru, tebal membran respirasi, dan perbedaan tekanan dan konsentrasi O2.
·         Transportasi gas
Transportasi gas merupakan proses pendistribusian O2 kapiler ke jaringan tubuh dan CO1 jaringan tubuh ke kapiler. Transportasi gas dipengaruhi oleh beberapa faktor, curah jantung, kondisi pembuluh darah, latihan, eritrosit dan Hb.
C.    ETIOLOGI
Pada umumnya tubuh terserang Bronchopneumonia karena disebabkan oleh penurunan mekanisme pertahan tubuh terhadap virulensi organismepatogen. Penyebab Bronchopneumonia yang biasa ditemukan adalah :
1.      Bakteri :  Diplococus Pneumonia, pneumococcus, stretococcus hemoliticus aureus, haemophilus influenza, basilus friendlander, mycobacterium tuberculosis.
2.      Virus : Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.
3.      Jamur : citoplasma capsulatum, criptococcus nepromas, blastomices dermatides, aspergillus Sp, candinda albicans,Mycoplasma pneumonia. Aspirasi benda asing..
4.      Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya Bronchopnemonia adalah:
a). Faktor predisposisi
·         Usia / umur
·         Genetika
     b). Faktor pencetus
·           Gizi buruk/ kurang
·           Berat badan lahir rendah ( BBLR)
·           Tidak mendapatkan ASI yang memadai
·           Imunisasi yang tidak lengkap
·           Polusi udara
·           Kepadatan tempat tinggal

D.    PATOFISIOLOGI
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh virus penyebab bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan broncus dan alveolus dan jaringan sekitarnya. Inflamasi pada bronkus ditandai adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktof, ronchi positif dan mual. Setelah itu  mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu :
A.    Stadium I ( 4-12 jam )
Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostaglamdin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan adema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan diantara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbndioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.
B.     Stadium II/ hepatisasi  (48 jam berikutnya)
Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagian bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit,eritrosit, dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.
C.     Stadium III/ hepatisasi kelabu ( 3-8 hari )
Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.
D.    Stadium IV/ resolusi ( 7-11hari )
Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan absorsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula. Inflamasi pada bronkus ditandai adanya penumpukan sekret, sehungga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi dalah kolaps alveoli,fibrosis, emfisema dan atelektasis. Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berfungsi untuk melembabkan rongga fleura. Emfisema  adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas.

E.   TANDA DAN GEJALA
·         Biasanya didahului infeksi traktus respiratoris atas.
·         Demam (390-400) kadang-kadang disertai kejang karena demam yang tinggi.
·         Anak sangat gelisah, dan adanya nyeri dada yang terasa ditusuk-tusuk, yang dicetuskan oleh bernapas dan batuk.
·         Pernapasan cepat dan dangkal disertai pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut.
·         Kadang-kadang disertai muntah dan diare.
·         Adanya bunyi tambahan pernapasan seperti ronchi, whezing.
·         Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan hipoksia apabila infeksinya serius.
·         Ventilasi mungkin berkurang akibat penimbunan mokus yang menyebabkan atelektasis absorbsi.

F.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
·      Pemeriksaan radiologi yaitu pada foto thoraks, konsolidasi atau beberapa lobus yang berbercak-bercak infiltrat.
·      Pemeriksaan laboratorium didapati lekositosit antara 15000 sampai 40000 /mm3. Hitung sel darah putih biasanya meningkat kecuali apabila pasien mengalami imunodefiensi.
·      Pemeriksaan AGD ( analisa gas darah ) , untuk mengetahui status kardiopulmoner yang berhubungan dengan oksigen.
·      Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum, untuk mengetahui mikroorganisme penyebab dan obat yang cocok untuk menanganinya.



G.  PENATALAKSANAAN
      Farmakologi pemberian antibiotik G, sreptomisin,ampicilin,gentamisin. Pemilihan jenis antibiotik didasarkan atas umur, keadaan umum penderita, dan dugaan kuman penyebab :
1.      Umur 3 bulan- 5 tahun, bila toksis disebabkan oleh streptokokus pneumonia hemufilus influenza atau stafilokokus. Pada umunya tidak diketahui penyebabnya, maka secara praktis dipakai :
Kombinasi : penisilin prokain 50.000-100.000 KI/kg/24jam IM, 1-2 kali sehari dan kloramfenikol 50-100 mg/kg/24 jam IV/ Oral, 4 kali sehari. Atau kombinasi ampisilin 50-100mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari dan kloksasilin 50 mg/kg/24jam IM/IV, 4 kali sehari atau kombinasi eritromisin 50 mg/kg/24jam, oral 4 kali sehari dan kloramfenikol ( dosis sama dengan diatas)
2.      Anak-anak < 5 tahun, yang non toksis, biasanya disebabkan oleh : Streptokokus pneumonia : o penisilin prokaiin IM atau o Fenoksimetilpenisilin 25.000-50.000 KI/24 jam oral, 4 kali sehari o eritromisin atau o kotrimoksazol IVFD dekstrose 6/30 mg/kg/24 jam, oral 2 kali sehari/ o oksigen 1-2 L/menit. ASI/PASI 8 x 20cc per sonde B. Non farmakologi 5% ½ NaCl 0,225% 350 %/24 jam
1. Istirahat, umunya penderita tidak perlu dirawat, cukup istirahat dirumah.
2. Simptomatik terhadap batuk.
3. Batuk yang produktif jangan ditekan dengan antitusif.
4. Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris, diberikan broncodilator.
5. Pemberian oksigen umunya tidak diperlukn, kecuali tidak diperlukan, kecuali untuk kasus berat. Antibiotik yang paling baik adalah antibiotik yang sesuai dengan penyebabnya.
                 Pencegahan penyakit bronkopneumonia dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan penderita atau mengobati secara dini penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya bronkopneumonia ini. Selain itu hal-hal yang dapat dilakukanadalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh kita terhadap berbagai penyakit saluran nafas seperti : cara hidup sehat, makan makanan bergizi dan teratur, menjaga kebersihan, beristirahat yang cukup, rajin olahraga, dll.

Rabu, 19 November 2014

ARTIKEL PENYAKIT DAYAK NGAJU MENURUT PANDANGAN KEPERAWATAN




ARTIKEL

Tentang Penyakit Paripit ( Penyakit Dayak Ngaju )

Mata Kuliah : Seni Budaya Lokal



 

          Oleh : Kristina Mensi Eva
            Nim : 2013.C.05a.0495





     EKA HARAP PALANGKA RAYA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
2013/ 2014













PENGANTAR  

                Pulau kalimatan atau yang biasa di sebut dengan nama “ pulau borneo “, adalah pulau yang terbesar di indonesia yang penuh dengan keanekaragaman suku ,bahasa dan sumber daya alam yang melimpah,  di dalam pulau inilah terdapat suku dayak yang bemacam-macam jenis bahasa dan adat-istiadat setempat, dengan kehidupan saling bergotong royong dan membantu sesama, dalam hal ini kekeluargaan suku dayak sangat tampak .kebiasan hidup mengandalkan sumber daya alam yang ada di daerah setempat membuat suku dayak sangat menyatu dengan alam bagaikan organ tubuh yang melekat pada jiwa, dengan kehidupan inilah masyarakat suku dayak hidup denga
n tenang dan aman.    Dalam penulisan artikel ini penulis sangat tertarik mengambil judul  penyakit yang ada di daerah suku dayak dengan nama penyakit yang biasa di sebut oleh masyarakat dayak Ngaju ( Katingan )  Paripit”, penyakit inilah sering menyerang kehidupan  para masyarakat dayak Ngaju, baik  anak-anak,remaja, maupun dewasa, dan penyakit paripit ini sudah sering menyerang masyarakat  suku dayak baik dari jaman dulu  maupun sampai pada jaman  sekarang, dalam penulisan ini penulis sangat berharap artikel ini akan menjadi sumber ilmu dan penunjang pendidikan bagi mahasiswa/ mahasiswi. Agar sebagai mahasiswa maupun mahasiswi bisa mengetahui jenis penyakit yang ada pada masyarakat suku dayak Ngaju sekarang .

A.      Pengertian Penyakit Paripit. ( Tapapeling )

Penyakit paripit  adalah sejenis  penyakit kulit  yang sudah lama berada di lingkungan masyarakat suku dayak , yang biasa di sebut dalam bahasa Indonesianya penyakit cacar air penyakit ini juga sangat berbahaya bagi kesehatan, dan penyakit ini di sebabkan oleh infeksi virus varicella zoster yang mengakibatkan munculnya ruam kulit berupa kumpulan bintik-bintik kecil ,baik berbentuk datar maupun benjolan dan akan terasa gatal, dalam benjolan tersebut tampak bening yang berisi air di dalamnya.
          Paripit ( cacar air ) ini merupakan penyakit menular yang bisa ditularkan oleh seseorang kepada orang yang sehat lainnya secara langsung , dan orang yang sudah pernah terkena penyakit ini maka tubuhnya tersebut akan membentuk anti bodi terhadap virus varicello,  sehingga dimasa depan tidak akan lagi terserang penyakit virus paripit ( cacar air ) dari penularan yang di lakukan oleh orang lain.
Dalam hal ini Ada beberapa pendapat dari narasumber ( Suku Daya Ngaju ) yang terpercaya yang telah di wawancarai oleh penulis.

1.       Menurut ibu Ruskanalawati ( 15-09-2013 ) penyakit paripit adalah sejenis penyakit yang menyerang pada bagian kulit atau biasa yang di sebut dengan cacar air dan penyakit ini membekas hitam pada kulit.

2.       Menurut ibu Kusei ( 15-09-2013 ) peyakit paripit adalah penyakit yang berbintik-bintik kecil merah pada kulit dan pada akhirnya akan menjadi bintik besar pada kulit dan membekas hitam.

3.       Menurut  Lia (  20-09-201  ) penyakit paripit adalah sejenis penyakit yang menyerang bagian kulit, dan bentuk penyakit bintik-bintik merah, penyakit ini juga memiliki sifat menular.

Dapat di simpulkan penyakit paripit ini adalah penyakit yang menyerang pada bagian permukaan kulit,  dengan bentuknya bintik-bintik merah yang berbentuk gelembung dan di dalamnya berisi air, dan jika di pecahkan akan makin bertambah banyak dan bisa terjadi penularan dari seorang penderita penyakit paripit ke orang yang lainnya

B.Penyebab Penyakit Paripit ( Tapapeling )
Penyakit paripit ini sering menyerang secara tiba-tiba, tanpa pandang bulu kendati bisa disembuhkan, jangan sepelekan penyakit yang telah ratusan tahun di kenal oleh masyarakat dayak ngaju .
Biasanya perubahan cuaca dari musim kemarau yang cenderung bersuhu panas ke yang bersuhu dingin. Akan turut membuat perubahan pada tubuh, jika kondisi tubuh tidak fit, maka biasanya seseorang akan mudah mengidap suatu penyakit, penyakit yang biasanya muncul saat kondisi tubuh tidak dalam keadaan fit adalah penyakit paripit.
Adapun yang menyebabkan timbulnya penyakit ini pada penderita adalah :
·                  Pengaruh Cuaca : karena melaui udara vurus dapat dengan cepat berpindah dan kotak dengan orang lain. Udara juga  bisa menyebabakan daya tahan tubuh seseorang menjadi menurun jadi tidak menutup kemungkinan seseorang akan terserang penyakit paripit.
·                  Pengaruh Lingkungan : Lingkungan yang kotor dan tidak terawat bisa menyebabkan seseorang terserang penyakit paripit, karena dari lingkungan akan membawa adanya kuman dan virus sehingga seseorang sakit.
·                  Pengaruh kekebalan tubuh yang tidak baik : akibat dari kekebalan tubuh yang tidak baik atau menurun akan mengakibatkan seseorang mudah terserang penyakit paripit, karena penyakit ini sama dengan cacar air yang menjadi penyebab utamanya adalah virus varicella zoster.
Hal-hal tersebut di ataslah yang menjadi penyebab seseorang akan terserang penyakit paripit.
Ciri-ciri penyakit paripit adalah :
·           Menyerang seluruh permukaan kulit penderita.
·                  Bersifat menular dari seorang penderita ke orang lainnya.
·                  Berbentuk bintik-bintik merah.
·                  Berupa gelembung-gelembung yang berisi air.
·                  Setelah sembuh membekas berwarna hitam yang susah untuk di hilangkan.
·                  Gatal-gatal.  


C.         Proses  Terjadi  Penyakit Paripit
 ( Tapapeling )

                   Pada tahap awal penderita penyakit paripit  akan mengalami  demam tinggi, suhu badan meningkat drastis, batuk-batuk, biji mata memerah. Setalah mengalami hal tersebut di atas maka penderita akan masuk pada tahap kedua yaitu akan mulailah muncul bintik-bintik merah yang berisi air di dalamnya yang seperti gelembung-gelembung yang tumbuh pada tubuh si penderita, setelah itu penderita akan merasa gatal-gatal pada tubuhnya dan mengalami susah tidur.
           Setelah muncul bentol atau gelembung yang berisi air di seluruh tubuh , maka masa inkubasi dari penyakit paripit ini adalah sekitar 2-3 minggu tergantung dari daya tahan tubuhnya. Maka penyakit paripit yang keluar di permukaaan kulit hanya sedikit atau akan cepat menghilang.
           Jika tubuh yang berbintik-bintik merah tersebut di garuk maka akan mengakibatkan semakin banyaknya tumbuh bintik-bintik merah tersebut  di permukaan tubuh si penerita dan bisa mengakibatkan hal yang fatal, seperti susah dalam proses penyembuhannya. Bintik-bintik merah ini akan terasa gatal terutama jika tubuh berkeringat dan tidak  di sengaja si penderita akan menggaruknya.


D.      Tanda Dan Gejala Penyakit Paripit
( Tapapeling )
 Sebelum penyakit paripit menyerang seorang penderita ada berbagai macam hal dan tanda maupun gejala yang akan di rasakan oleh seorang penderita peyakit ini.
Adapun tanda dan gejala penyakit paripit adalah :
·               Kondisi badan terasa menurun atau tidak fit, lemah dan mudah capek.
·               Mulai merasakan demam di sertai batuk-batuk dan flu ringan.
·               Akan merasakan nyeri di pergelangan sendi dan nyilu, tetapi tidak semua penderita mengalami, ada yang hanya demam beberapa hari saja.
·               Selanjutnya akan berbentuk bintik-bintik merah, kemudian bintik tersebut menonjol membentuk lelepuhan berisi cairan yang terasa gatal.
·               Pada anak-anak yang berusia di atas 10 tahun, gejala awalnya berupa sakit kepala, demam sedang dan rasa tidak enak badan , gejala tersebut biasanya tidak di temukan pada anak-anak yang lebih muda,gejala pada orang dewasa biasanya lebih berat.
·               24-36 jam setelah timbulnya gejala awal, muncul bintik-bintik merah datar kemudian bintik tersebut menonjol.
·               membentuk lelepuhan berisi cairan yang terasa gatal, yang akhirnya akan mengering, proses ini memakai waktu selama 6-8 jam.
Untuk mengatasi gejala-gejala penyakit cacar air, bisa dilakukan dengan melakukan kompres dingin pada kulit yang terkena. Agar rasa gatal berkurang dan dapat mengurangi garuk-garuk yang dapat menyebabkan infeksi.
Tanda dan gejala-gejala di atas akan  khas muncul, jika  seorang penderita  tersebut akan terserang penyakit paripit. Dalam gejala – gejala diatas terkadang penderita tidak menyadari bahwa dirinya akan terserang jenis penyakit paripit ini. Karena kalau dilihat dari gejala awal bisa di katakan hanya gejala-gejala biasa saja yang muncul, inilah bisa menjadi penyebab utama bahwa seorang penderita tersebut tidak mengetahuinya.
Namun ketika tahap awal berlanjut dan menyerang si penderita, maka pada tahap yang lebih      seriuslah penderita akan menyadarinya karena mulailah muncul bintik-bintik merah pada permukaan tubuhnya. Inilah bisa menyebabkan kefatalan bagi penderita kerana lambat menanganinya akibat ketidak tahuan pada gejala-gejala yang muncul.

E.       Pengobatan Penyakit Secara Tradisional
( Dalam Masyarakat Dayak Ngaju )

                Dalam proses pengobatan penyakit paripit, banyak berbagai macam cara yang digunakan oleh masyarakat suku dayak ngaju( katingan ). Macam-macam cara pengobatan paripit tersebut biasanya memanfaatkan tanaman yang tumbuh di dalam  hutan maupun obat-obatan tanaman yang berada di lingkungan sekitar rumah.

                Adapun berbagai macam tanaman dan obat-obatan alam yang dapat digunakan untuk pengobatan penyakit paripit adalah sebagai berikut :
·         Minum air kelapa muda, yang baru di petik dari pohonnya,
·         Minyak babi, gosoklah minyak babi yang sudah di panaskan lalu di dinginkan , setelah itu gosok pada bagian tubuh yang terkena penyakit paripit.
·         Menggunakan air beras, air beras tersebut di gunakan untuk di lap pada bagian tubuh si penderita.
·         Mandi di dalam jukung yang di dalamnya berisi air.
·         Buah nenas, parutlah buah nenas setelah itu ambil airnya dan minum air hasil parutan.
·         Buah mengkudu, parutlah buah mengkudu yang berjumlah 2 buah, lalu ambil air parutannya dan minum.
·         Daun pinang , rebuslah daun pinang lalu minum air hasil rebusan daun  pinang tersebut.
·         Tidur diatas daun pisang, agar tidak menular .
·         Menggunakan kulit pisang, kulit pisang dioleskan pada luka paripit.
·         Pelepah pohon aren yang kering, di haluskan kemudian gosok pada kulit bekas luka.


F.       Perawatan Penyakit Paripit

Perawatan pasca penyembuhan intinya tidak boleh di garuk, jika digaruk tangan kita kotor pasti akan menyebabkan infeksi, jika infeksi sembuhnya akan susah. Jika penderita kuat untuk tidak di garuk sama sekali akan sembuh dengan sendirinya tanpa bekas ada luka.
·            Jika bintik muncul pada telapak tangan boleh mandi, tetapi jika tidak muncul maka tidak diperbolekkan untuk mandi.
·            Sering mengganti pakaian.
·            Minum obat-obat dari hasil alam seperti air rebusan daun pisang, daun pegagan, dan buah mengkudu.
·            Hindari bintik-bintik menjadi pecah jika pecah segera bersihkan agar tidak menyebar ke seluruh bagian tubuh.
·            Gunakan kuyit, untuk menghidari gelmbung menjadi pecah.
·            Kulit di kompres dengan air dingin.

                Dan adapun akibat dari penyakit paripit, dapat membahayakan dan menimbulkan kematian pada orang yang mengalami defisiensi sistem imun ( penurunan fungsi sistem imunitas/ kekebalan tunuh. Turunnya fungsi imunitas tubuh tersebut dapat menyebabkan tubuh tidak mempunyai kekebalan, dan sistem ketahan untuk melawan serangan penyakit paripit, sehingga kondisi penderita melemah yang pada akhirnya dapat mengakibatkan sesuatu yang fatal.
                Pada anak yang di beri beberapa jenis obat yang berefek pada menurunya sistem imunitas tubuh, paripit dapat menyebabkan kematian dan kebutaan. Penyakit ini juga membahayakan seseorang ibu dan bayi yang di kandungnya.



Gambar orang yang terkena penyakit paripit.
  

 Gambar anak yang terkena penyakit paripit.
 







PENUTUP
               
    Demikian uraian penyakit paripit yang berasal dari daerah dayak ngaju, semoga artikel ini dapat berguna untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang model penyakit-penyakit yang berada di sekitar masyarakat dayak ngaju dan gejala-gejal maupun penyebab dan pengobatannya secara tradisionalnya , dalam penulisan artikel ini penulis mohon maaf jika masih ada kekurangan dan kesalahan yang di dapatkan. Akhir kata penulis menyampaikan terimakasih atas kepercayaan yang telah  di berikan sehingga penulis dapat menulis artikel ini dengan baik. Tiada gading yang tak retak.



“TERIMA KASIH”



.