BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
siklus kehidupan, masa remaja merupakan masa keemasan. Pada masa ini terjadi
banyak perubahan dan masalah, yang jika tidak cepat di tangani akan menjadi
masalah yang berkepanjangan dan berdampak serius. Salah satu masalah remaja
yang memerlukan perhatian adalah masalah kesehatan, dimana kesehatan merupakan
elemen penting manusia untuk dapat hidup produktif. Remaja yang sehat adalah
remaja yang produktif sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Remaja
adalah harapan bangsa, sehingga berlebihan jika dikatakan bahwa masa depan
bangsa yang akan datang akan ditentukan pada keadaan remaja saat ini masa
remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Masa ini
sering disebut dengan masa pubertas. Namun demikian, menurut beberapa ahli,
selain istilah pubertas digunakan juga istilah adolesens ( dalam bahasa inggris
adolescence ).
Remaja
mempunyai kebutuhan nutrisi yang spesial, karena pada saat tersebut terjadi
perubahan yang pesat dan terjadi perubahan kematangan fisiologis sehubungan
dengan timbulnya pubertas. Perubahan pada masa remaja akan memengaruhi
kebutuhan , absropsi serta penggunaan zat gizi
hal ini di sertai dengan pembesaran organ dan jaringan organ tubuh yang
pesat. Perubahan hormon yang menyertai pubertas juga menyebabkan banyak
perubahan fisiologis yang memengaruhi kebutuhan gizi pada remaja.
Selama
ini perhatian masyarakat tertuju pada upaya peningkatan fisik dan kurang
memeperhatikan non fisik, yang juga merupakan faktor penentu dalam keberhasilan
seseorang remaja di kemudian hari. Faktor mental emosional yang tidak di
perhatikan menyebabkan seorang remaja hanya sehat fisiknya, namun secara
pisikologi rentan terhadap stres dan
tekanan hidup. Remaja yang demikian akan mudah mengalami masalah mental
emosional dan perilaku, seperti kesulitan belajar, kecemasan, kenakalan remaja,
dan ketergantungan NAPZA.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Apa definisi Remaja?
1.2.2
Apa Masalah Kesehatan Pada Remaja ?
1.2.3
Bagaimana Cara Mengatasi Masalah Kesehatan
Pada Remaja ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1
Untuk Mengetahui Definisi Remaja.
1.3.2
Untuk Mengetahui Masalah Kesehtan Pada
Remaja.
1.3.3
Untuk Mengetahui Cara Mengatasi Masalah
Kesehatan Pada Remaja.
1.4 Metode Penulisan
Dalam penulisan ini
penulis menggunakan metode kajian
pustaka untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan judul makalah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Definisi Remaja
Remaja berasal dari kata latin
adolensence yang
berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti
yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosi onal social dan fisik
(Hurlock, 1992). Pada masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang
jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau
tua.
Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994)
bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena
remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut
Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa
anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki
masa dewasa.
Masa remaja adalah masa yang sangat
menentukan dalam perkembangan biologis dan fisikologis seseorang. Perkembangan
ini dipengaruhi oleh perkembangan lingkungan dan sosial karena pada masa remaja
terjadi pertumbuhan pesat baik dari segi fisik maupun mental perubahan fisik
dan mental terjadi karena pengaruh hormon-hormon pertumbuhan yang mempengaruhi
kondisi emosi cara berfikir, cara memandang dan memutuskan masalah, dan
akhirnya mempengaruhi pola cara perilaku remaja. Apa bila remaja tidak di
bekali dengan pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang dirinya dan
masalah-masalah yang ada di sekitarnya, perubahan fisik dan mental yang terjadi
dapat mengakibatkan penyimpangan perilaku pada remaja.
Dalam rangka mencari identitas diri,
remaja sering melakukan eksperimen coba-coba, melakukan hal-hal yang menantang
agar tampak seperti jagoan atau untuk menarik perhatian dan sekedar mendapat
pengakuan bahwa dirinya hebat. Pada masa remaja di pengaruhi teman sebaya lebih
kuat dari pada pengaruh orang tua ataupun guru, sehingga apapun pendapat dan
kata teman, buat seorang lebih punya arti dari pada yang lainnya.
Remaja mempunyai kebutuhan nutrisir
yang spesial, karena pada saat tersebut terji pertumbuhan yang pesat dan
terjadi perubahan kematangan fisiologis sehubungan dengan timbulnya pubertas. Perubahan
masa remaja akan mempengaruhi kebutuhan, absorpsi, serta cara penggunaan zat
gizi. Hal ini di sertai dengan pembesaran organ dan jaringan tubuh yang cepat.
Perubahan hormon yang menyertai pubertas juga menyebabkan banyaknya perubahan
fisiologis yang mempengaruhi kebutuhan gizi pada remaja.
2.2 Masalah kesehatan pada remaja
Remaja merupakan dimana seseorang
mengalami perkembangan untuk mencapai kematangan mental, emosional, sosial, dan
fisik. Banyak persoalan yang di hadapi para remaja yang berkaitan dengan
masalah gzi. Masal-masalah gizi yang biasa di alami pada masa remaja adalah
obesitas dan anemia
OBESITAS
Obesitas biasa disebut dalam bahasa
awam sebagai kegemukan atau berat badan yang berlebihan sebagai akbat
perhimpuan lemak tubuh yang berlebihan. Permasalahan ini terjadi hampir di
seluruh dunia dengan prevalensi yang semakin menngkat baik di negara-negara
maju ataupun berkembang, termasuk di indonesia. Di kalangan remaja , obesitas
merupakan permasalahan yang merisaukan, karena dapat menurunkan rasa percaya
diri seseorang dan menyebabkan gangguan fisikologis yang serius. Belum lagi
kemungkinan diskriminasi di lingkungan sekitar. Dapat di bayangkan jika
obesitas terjadi pada remaja, maka remaja tersebut akan tumbuh menjadi remaja
yang kurang percaya diri.
Dari hasil penelitian di ketahui
bahwa mereka yang mengalami obesitas ( overweight) saat remaja diketahui 3-4
kali lebih beresiko mengalami penyakit jantung yang berujung pada kematian
serta beresiko 2-3 kali terhadap penyakit kanker kolon dan penyakit pernafasan
seperti asma dan emfisemat. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebuh
banyak di bandingkan pria, perbandingan yang norml antara lemak tubuh dengan
berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanta; dan 18-23% pada pria. Wanita
dengan lemak tubuh lebh dar 30%, dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25%
dianggap mengalami obesitas.
Penyebab Obesitas:
Menurut
Mu’tadin ( 2002 ) ada beberapa faktor pencetus obesitas di antaranya :
1. faktor genetik
2. pola makan yang berlebih.
3.
Kurang aktivitas
4.
Emosi
5.
Lingkungan
Cara
mengatasi obesitas :
- Menjaga pola makan yang teratur atau tidak berlebih sesuai dengan kebutuhan tubuh.
- Berolahraga yang teratur
- Mengontrol emosi
ANEMIA.
Anemia adalah suatu keadaan dimana
kadar hemoglobin dan eritrosit lebih rendah dari normal. Pada pria hemoglobin
norma adalah 14-18gr% dan eritrosit 4,5-5,5 jt/mm³. sedangkan pada wanita
hemoglobin normal adalah 12-16gr% dan eritrosit 3,5-4,5jt/mm³. anemia pada remaja
dapat berdampak pada menurunya produktivitas kerja ataupun kemampuan akdemis di
sekolah, karena tidak adanya gairah belajar dan konsentrasi, anemia juga dapat
mengganggu pertumbuhan dimana tinggi dan berat badan menjadi tidak sempurna
selain itu daya tahan tubuh akan menurun sehingga mudah terserang penyakit.
Pada umumnya anemia lebih serng
terjadi pada wanita dan remaja putri di bandingkan dengan pria yang sangat di
sayangkan adalah kebanyakan penderita tidak tahu atau tidak menyadarinya.
Bahkan ketika tahu pun masih menganggap anemia sebagai masalah sepele remaja
putri mudah terserang anemia.
Cara mengatasi anemia
Makan-makanan
yang bnayak mengandung zat besi dari bahan hewani ( daging, ikan, ayam, hati,
dan telur ) dan dari bahan nabati ( sayuran yang berwarna hijau tua, kacang-kacangan
dan tempe) .
Banyak
makan-makanan sumber vitamin C yang bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan
zat besi misalnya jambu, jeruk, tomat dan nanas.
Minum
tablet penambah darah setiap hari khususnya saat mengalami haid.
Bila
merasakan adanya tanda dan gejala anemia, segera konsultasi ke dokter untuk di
cari penyebabnya dan pengobatan.
Penyebab Anemia
Kurangnya
asupan zat besi
Berkurangnya
zat besi dalam makanan
Meningkatnya
kebutuhan zat besi
Kehilangan
dara yang kronis
Penyakit
malaria
Cacing
tambang
Infeksi-infeksi
lain serta pengetahuan yang kurang tentang anemia.
MASALAH
KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA REMAJA
Masa
remaja adalah masa yang paling indah, demikian pendapat sebagian orang masa
remaja yang indah ini tentunya akan terwujud apabila para remaja memiliki
kesehatan yang baik.
Gigi Berlubang
Hampir
setiap orang pernah merasakan sakit gigi. Faktor penyebabnya bisa
bermacam-macam, tetapi kebanyakan orang sakit gigi kahrena giginya berubang
besar dan sudah mengenai bagian pulpa. Gigi berlubang atau karies adalah
penyakit jaringan keras gigi akbat aktivits bakteri yang menyebabkan terjadinya
pelunakkan dan selanjutnya terjadi lubang / rongga pada gigi.
Gusi Berdarah
Masalah gusi berdarah seringkali di
keluhkan oleh para remaja biasanya terjadi tiba-tiba saat sedang menyikat gigi.
Hal ini menunjukkan adanya peradangan pada gusi yang di sebut dengan
ginginvitis. Peradangan pada gusi ini biasanya di sebabkan oleh buruknya
kebersihan mulut, sehngga terjadi penumpukan flak yang kemudian dapat
mengiritasi gusi.
Sariawan
Sariawan merupkan bahasa awam untuk
berbagi macam lesi/luka yang timbul di rongga mulut, namun biasanya sariawan
yang sering timbul sehari-hari pada rongga mulut di sebut stomatitis Aftosa
Recurent ( SAR ).
Bau Mulut
Bau mulut atau halitosis pada saat
berbicara sering tidak di sadari oleh penderitanya. Dia baru menyadari saat
lawan bicaranya menjauh sedikit demi sedkit atau membandingkan muka saat
berdekatan. Hal ini bisa berlangsung lama bila tidak ada sahabat atau teman kita
yang mau memberitahu. Setelah menyadari adanya bau yang tak sedap keluar dari
mulut maka biasanya orang akan menjadi minder, rendah diri dan membatasi
berkomunikasi dengan rekannya.
Pewarnaan Gigi
Perwarnaan gigi dapat mengurangi
keindahan penampilan dan mempengaruhi rasa percaya diri seseorang. Hal ini
terjadi pada anak-anak dan remaja yang sangat memperhatikan penampilannya.
Cara
Pemeliharaan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Remaja
Bersihkan
Gigi Secara Rutin
Ada
lima hal harus diperhatikan dalam melakukan penyikatan gigi guna memperoleh
hasil yang efektif.kelima hal tersebut adalah :
1.tepat
memilih sikat gigi
2.tepat
cata menyikat gigi
3.tepat
waktu menyikat gigi
4.tepat
lamanya menyikat gigi
5.teliti
dalam menyikat gigi
Syarat-syarat sikat gigi yang baik adalah tangkainya lurus
sehingga mudah dipegang ;ujung kepala sikat kecil dan membulat sehingga mudah
masuk didaerah mulut;beserta bulu sikat sedang,lembut,dan datar. cara menyikat gigi yang baik dan disarankan adalah :
1. penyikatan dilakukan Pada seluruh
penyikatan gigi
2. menggunakan
gerakan naik turun untuk permukaan gigi yang menghadapi pipi, bibir, dan lidah.
3. penyikatan
dengan gerakan maju mundur untuk permukaan yang digunakan untuk mengunyah
makanan.
Waktu
menyikat gigi yang tepat adalah setiap habis makan dan sebelum tidur malam.
Lamanya menyikat gigi kurang lebih 2 menit, dengan 5-10 gerakan untuk setiap
bagian. Agar pembersihan pada daerah celah diantara dua gigi lebih maksimal,
maka dianjurkan menggunakan benang gigi ( dental floss). Selain pada gigi,
penyikatan pada lidah juga perlu dilakukan untuk membersihkan lidah dari
kotoran yang dapat menimbulkan bau mulut.
Hindari
Konsumsi Makanan Dan Minuman yang Manis Dan lengket
Makanan
dan minuman yang manis dan lengket dan disukai remaja seperti permen, coklat,
caramel, minuman bersoda, es krim, dan sebagainya dapat meneyebabkan timbulnya
suasana asam didalam mulut, sehingga dapat menyebabkan berbagai masalah
kesehatan gigi dan mulut seperti telah dijelaskan sebelumnya. Perbanyaklah
mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan yang berserat dan berair yang baik untuk
kesehatan tubuh dan gigi, karena didalamnya mengandng vitamin C yang dapat
meningkatkan daya tahan tubuh. Contohnya adalah brokoli, semangka, jeruk, apel,
dsb. Selain itu juga perlu dihindari makanan-makanan yang terlalu panas atau
dingin, makanan yang dapat menimbulkan bau mulur, serta hindari rokok.
Periksakan Gigi Secara
Berkala
Pemeriksaan
gigi secara berkala dengna mengunjungi dokter gigi perlu dilakukan minimal 6
bulan sekali, agar masalah-masalah kesehatan gigi dan mulut yang ada dapat
diatasi sedini mungkin. Jangan menunggu hingga
2.3
Cara Mengatasi Masalah Kesehatan Pada Remaja
Menurut
Cutrona’s (1990) dalam stewart (1996) ada lima jenis dukungan sosial yang dapat
di berikan pada seseorang yaitu sebagai berikut :
1.
Dukungan
Emosional
Bagi
remaja, dukungan emosional ini sangat diharapkan karena remaja pada masa
pencarian identitas diri. Adanya dukungan emosional membuat remaja merasa
nyaman dan dapat meningkatkan rasa percaya diri yang tentunya akan berdampak
pada kemampuan remaja menemukan identitas dirinya.
2. Dukungan
Intregitas Sosial
Jenis
dukungan ini memungkinkan remaja untuk mendapatkan perasaaan di terima dan memiliki suatu kelompok dimana mereka saling
membagi perasaan, minat, perhatian, dan melakukan kegiatan kreatif
3. Dukungan
Penghargaan
Dukungan
jenis ini sangat membantu remaja dalam meningkatkan harga dirinya, karena
remaja mendapatkan penghargaan atau pengakuan dari orang lain. Penghargaan ini
sangat bermanfaat untuk mencegah remaja menggunakan napza sebagai jalan keluar
mengatasi rasa minder atau pada diri rendah.
4.
Dukungan Instrumental
Dukungan
instrumental ini meliputi bantuan langsung seperti buku, uang, makanan, atau
obat-obatan. Dukungan instrumental yang diberikan pada remaja mendukung
terselenggaranya kegiatan kerja bakti, diskusi remaja dan sebagainya.
5. Dukungan
Informasi
Dukungan informasi yang di berikan dapat
berupa nasihat , saran, atau umpan balik tentang keadaan remaja.
6
Dukungan
Keluarga
Keluarga mempunyai
peran penting dalam memberikan dukungan kepada anaknya
khususnya orang tua karena peran
orang tua sangat besar dalam mendidik anaknya dan menasihati anaknya
1. Kegagalan
di Sekolah atau Kesulitan Belajar.
Kegagalan
di sekolah berarti tidak dapat mengikuti pelajaran di kelas. Penyebabnya dapat berupa
:
·
Gangguan organic yaitu disebabkan oleh perkembangan
otak yang terlambat, penyakitatau trauma susunan saraf pusat (otak),
penglihatan dan pendengaran serta kelemahan fisik (lelah atau sakit).
·
Cara murid belajar atau cara guru
mengajar. Anak yang memiliki kecerdasan. Anak yang memiliki kecerdasan yang
sama, bias saja mempunyai penangkapan yang berada dengan anak lainnya.
·
Masalah emisonal.
·
Masalah social atau ekonomi, misalnya
ayah baru meninggal atau menganggur sehingga anak terpaksa berkerja untuk membantuk
keluarganya.
2. Masalah
Perilaku
Masalah perilaku meliputi membolos,
mencuri, berbohong, agresi, tidak patuh, kenakalan remaja dan kebebasan seks.Seorang
remaja dapat saja mengalami salah satu atau
lebih dari permasalahan itu. Hal ini perlu penanganan yang sungguh-sungguh,
bila permasalahannya banyak atau mempunyai dampak terhadap orang lain. Masalah perilaku
sering terjadi karena anak remaja menjadi bosan dan tidak ada minat terhadap kehidupan
di sekelilingnya. Dan ia berkelompok dengan anak-anak lain yang memiliki perasaan
yang sama. Keadaan ini sering pula terjadi bila anak merasa gagal disekolah atau
ia merasa tidak disayang atau tidak diperhatikan dirumah. Melibatkan anak yang
kegiatan-kegiatan yang bermakna seperti di OSIS, olahraga, dll, akan sangat membantu
mengatasi masalahnya karena anak berjumpa dengan kawan yang berperilaku baik
yang dapat menolongnya.
3. Masalah
Emosi
Masalah emosional dapat tergambar dalam
bentuk gejala-gejala muda menangis, murung ,sedih, takut, cemas atau kuatir .
Bila anak merasa sangat menderita atau putus asa, atau sangat marah dan membenci,
ia mungkin mencoba untuk melukai dirinya sendiri. Permasalahan ini mungkin sudah
berlangsung lama atau baru saja mucnculnya. Bila baru terjadi, sering kali dicetuskan oleh suatu kejadian misalnya
setelah kematian orang yang dicintai, putus pacar atau kuatir terhada pujian
yang dirasakant erlaluberat, tidak menyukai seorang guru dll. Remaja yang
sedang mengalami masalah ini membutuhkan seseorang yang bias mengerti dan dapat
dipercaya sebagai tempat mencurahkan isi hatinya. Bisa seperti seorang dewasa seperti
guru, orang tua, dapat pula teman terutama mencurahkan yang dirahasiakan pada orang
tua.
4. Keluhan-Keluhan
Jasmani Tanpa Sebab Fisik
Keluhan ini dapat meliputi rasa
nyeri atau sakit ( kepala,perut,otot, dll), kelemahan atau bahkan kelumpuhan lengan
atau tungkai, tidak bias membicarakan, keletihan, merasa ada tekanan atau rasa
berat dikepala, sesak nafas, tidak mampu berkonsetrasi, ingatan yang lemah atau
mudah lupa dll. Kadang-kadan g keluhan jasmaniah merupakan tanda adanya kesedihan,
kemurungan, kesalahan atau kecemasan anak yang mengalami hal seperti diatas sering
tidak masuk sekolah karena alas an sakit,padahal dokter tidak menemukan kelainan
jasmani.Untuk mengatasi keadaan ini perlu diperhatikan hal-hal atau masalah
yang melatar belakangi keluhan tersebut .Pemberian obat-obatan yang berlebihan akan
dapat mengakibatkan anak tersebut menjadi pada obat dan tetap tidak menyadari keadaana
dan ya masalah tersebut.
5. Gangguan
Psikosis
Ganguan psikosis terkadang-kadang muncul
pada usia 12-16 tahun, yang ditandai oleh gangguan pada kemampuan menilai realitas,
gangguan emosi, proses piker dan perilaku. Anak yang tadinya baik-baik saja,
tiba-tiba perilakunya aneh, menarik diri dari lingkungan, kadang-kadang berbicara
atau tertawa sendiri, bicaranya sulit dipahami, mendengar suara-suara yang
berbicara padanya sedangkan orang lain tidak dapat mendengarnya ( halusinasi),
gangguan tidur, dll. Gangguan ini bias terjadi secara mendadak dan dicetuskan oleh
suatu kejadian, tapi dapar pula terjadi secara perlahan-lahan.Anak yang
mengalami gangguan ini harus di bawa berobat fasilitas kesehatan.
6. Gangguan
Kepribadian
Kepribadian adalah gangguan dari segala
sifat, pola reaksi dan perilaku seseorang yang menjadi cirri khas dari orang
tersebut yang menentukan sikap dan daya penyesuaiannya terhadap lingkungannya. Ciri
ini relative menetap dan dapar diperkirakan sebelumnya, memberikan gambar tentang
kepribadian seseorang seperti seseorang yang selalu periang, penyedih, pemarah,
bersifat kaku, ingin menarik perhatian orang, pemberani, suka menolong dll.
Seseorang dengan gangguan kepribadian
menunjukan sikap dan sifat yang relative menetap sebagai berikut :
a. Orang
yang seolah-olah, tidak dapat belajar dari pengalaman hidupnya, walau pun sudah
diperingatkan berkali-kali tentang suatu perbuatan atau perilaku, tapi dia tetap
mengulanginya hanya untuk pemuasan diri.
b. Orang yang selalu menderita oleh perbuatannya
sendiri, dan membuat orang lain di lingkungannya ikut menderita .orang tersebut
tidak mempedulikan akibat dari perbuatannya.
c. Orang yang tidak merasa berdosa, walau pun melakukan
yang sangat tercela.
d. Orang yang melakukan tindak kekerasan tanpa
perasaan menyesal atau iba melihat orang lain menderita.
e. Orang yang dalam bergurau sering melampau
batas kewajaran sehingga orang lain di sekitarnya menderita.
f. Orang yang selalu melakukan perbuatan
yang sangat mengejutkan orang lain di sekitarnya.
g. Orang yang selalu hidup secara tidak bertanggung
jawab, santai tidak mau bekerjamu dan terseret kedalam tindakan yang merugikan,
mungkin menjadi pemabuk, penjudi, penganggur, penipu, penondong, perampok,dsb.
h. Orang yang tidak mampu mengendalikan implus
(dorongan) dan selalu terjadi ledakan amarah yang tidak terkendali pada saat kejadian
itu.
i. Orang yang bertingkah laku selalu ingin
menarik perhatian orang lain, kadang-kadang bergaya mencolok dan berlebihan sehingga
lebih tampak dramatik.
7. Penyalah gunaan Zat ( Narkotik,
Alkohol, dan Zat adiktif lain)
Penyalah gunaan zat adalah penggunaan
zat secara patologis (di luar tujuan pengobatan) yang sudah berlangsung selama
paling sedikit satu bulan berturut-turut dan menimbulkan gangguan dalam fungsi
social atau pekerjaan .Penyalah gunaan zat dapat menimbulkan ketergantungan.
Seseorang dikatakan ketergantungan zat bila orang tersebut tidak mungkin baginya
menghentikan pemakaian. Biasanya ketergantungan terjadi setelah pemakaian jangka
panjang secara teratur. Ketergantungan ini dapat dalam bentuk ketagihan secara fisik
atau psikologis. Pada ketergantungan fisik, pemakaian akan mengalami gejala putus
zat bila ketergantungan pada alkohol, bila menghentikan pemakaiannya akan mengalami
tidak bias tidur, mudah tersinggung, tangan gemetar, ketakutan, bingung dan bahkan
kejang. Begitu pula pada pemakaian opium, bila dihentikan akan mengalami rasa
sakit sekali pada otot-otot, keram lambung, muntah, diare, berkeringat dan tidak
bias tidur.
Penyalah gunaan zat dapat menimbulkan
masalah terhadap diri sendiri, keluarga, lingkungan, masyarakat, bangsa dan
Negara. Masalah tersebut diantaranya meliputi :masalah kesehatan, perilaku,
sekolah, pekerjaan, keuangan, keluarga, hukum, dsb. Penyalah gunaan zat sering
pula menimbulkan masalah psikologis dan emosional yang kadang-kadang di sertai penurunan
daya ingat. Masalah kesehatan yang sering dijumpai adalah kekurangan vitamin,
penyakit paru-paru, hati, lambung dan ginjal. Kecelakaan lalu lintas, jatuh,
terbakar dan kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan sering terjadi pada
orang ketergantungan alkohol.
Penemuan dini penyalah gunaan zat bukan
merupakan suatu hal yang mudah, namun hal ini penting sekali aritnya dalam menentukan
sikap selanjutnya. Dalam upaya penemuan dini perlu diketahui hal-hal yang mencurigakan
:
·
Prestasi belajar menurun.
·
Sering membolos atau meninggalkan sekolah.
·
Sering membuat masalah dengan teman,
guru, atau murid sekolah lain.
·
Sering memakai uang sekolah, mencuri,
berhutang atau mengompas.
·
Lekas marah, tersinggung, sikap kasar,
tidak sabar dan egois.
·
Penampilan diri menurun, wajah murung,
loyo, ngantuk, kurang bergairah, acuh tak acuh, sering melamun, disiplin dan sopan
santun menurun, pemakaian kotor dan lusuh, cara pembicaraan lamban, tak jelas, kadang-kadang cadel serta banyak merokok.
·
Ke dapatan membawa zat atau membujuk teman
untuk memakai.
Upaya Pencegahan Narkoba
Upaya
pencegahan meliputi 3 hal :
1.
Pencegahan
primer :
Mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan NAPZA
dan melakukan intervensi.
Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja
yang mempunyai resiko tinggi untuk menyalahgunakan NAPZA, setelah itu melakukan
intervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan NAPZA.
Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia
dini, agar faktor yang dapat menghabat proses tumbuh kembang anak dapat diatasi
dengan baik.
2.
Pencegahan
Sekunder :
mengobati
dan intervensi agar tidak lagi menggunakan NAPZA.
3.
Pencegahan
Tersier :
merehabilitasi
penyalahgunaan NAPZA.
Yang dapat
dilakukan di lingkungan keluarga untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA :
1.
Mengasuh anak dengan baik :
-
Penuh kasih sayang
- Penanaman disiplin yang baik
- Ajarkan membedakan yang baik dan buruk
- Mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
- Mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu.
- Penanaman disiplin yang baik
- Ajarkan membedakan yang baik dan buruk
- Mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
- Mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu.
2. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat
Hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
Hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
3.
Meluangkan waktu untuk kebersamaan.
4. Orang tua menjadi contoh yang baik.
Orang tua yang merokok akan menjadi contoh yang tidak baik bagi anak.
5. Kembangkan komunikasi yang baik
Komunikasi dua arah, bersikap terbuka dan jujur, mendengarkan dan menghormati pendapat anak.
4. Orang tua menjadi contoh yang baik.
Orang tua yang merokok akan menjadi contoh yang tidak baik bagi anak.
5. Kembangkan komunikasi yang baik
Komunikasi dua arah, bersikap terbuka dan jujur, mendengarkan dan menghormati pendapat anak.
6.
Memperkuat kehidupan beragama.
Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.
7. Orang tua memahami masalah penyalahgunaan NAPZA agar dapat berdiskusi dengan anak
Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.
7. Orang tua memahami masalah penyalahgunaan NAPZA agar dapat berdiskusi dengan anak
Yang
dilakukan di lingkungan sekolah untuk pencegahan penyalahgunaan NAPZA :
1. Upaya terhadap siswa :
· Memberikan
pendidikan kepada siswa tentang bahaya dan akibat penyalahgunaan NAPZA.
· Melibatkan
siswa dalam perencanaan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA di
sekolah.
· Membentuk
citra diri yang positif dan mengembangkan ketrampilan yang positif untuk tetap
menghidari dari pemakaian NAPZA dan merokok.
· Menyediakan
pilihan kegiatan yang bermakna bagi siswa ( ekstrakurikuler ).
·
Meningkatkan kegiatan bimbingan konseling.Membantu siswa yang telah
menyalahgunakan NAPZA untuk bisa menghentikannya.
· Penerapan
kehidupan beragama dalam kegiatan sehari – hari.
2. Upaya untuk mencegah peredaran NAPZA di sekolah :
· Razia
dengan cara sidak
· Melarang
orang yang tidak berkepentingan untuk masuk lingkungan sekolah
· Melarang
siswa ke luar sekolah pada jam pelajaran tanpa ijin guru
· Membina
kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.
·
Meningkatkan pengawasan sejak anak itu datang sampai dengan pulang sekolah.
3. Upaya Untuk Membina Lingkungan Sekolah :
· Menciptakan
suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina huibungan yang harmonis
antara pendidik dan anak didik.
·
Mengupayakan kehadiran guru secara teratur di sekolah
· Sikap
keteladanan guru amat penting
·
Meningkatkan pengawasan anak sejak masuk sampai pulang sekolah.
Yang
dilakukan di lingkungan masyarakat untuk mencegah penyalahguanaan NAPZA:
1.
Menumbuhkan perasaan kebersamaan di daerah tempat tinggal, sehingga masalah
yang terjadi di lingkungan dapat diselesaikan secara bersama- sama.
2.
Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyalahguanaan NAPZA sehingga
masyarakat dapat menyadarinya.
3.
Memberikan penyuluhan tentang hukum yang berkaitan dengan NAPZA.
4.
Melibatkan semua unsur dalam masyarakat dalam melaksanakan pencegahan dan
penanggulangan penyalahguanaan NAPZA.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Dalam
perkembangan remaja sangat rentang terhadap pengaruh lingkungan. lingkungan sosial
budaya yang tidak positif merupakan faktor resiko bagi remaja untuk terjebak
dalam perilaku tidak sehat misalnya merokok, minum-minuman keras penggunaan
narkoba seks pranikah tawuran tindakan
kriminal semua perilaku remaja yang dianggap menyimpang ini sangat beresiko
terhadap kesehatan dan keselamatan meraka bukan hanya masalah dari
fisik biologis mereka melainkan dari lingkungan oleh sebab itu banyak remaja
yang tidak mampu mengatasi masalahnya tersebut. Jadi, dalam menghadapi keadaan
seperti kita harus selektif dalam memilih teman dan menghindari ingkungan yang
tidak baika Dan oleh sebab itu, tindakan
kita sebagai tenaga kesehatan harus mampu mengatasi masalah kesehatan remaja
dan meyarankan kepada remaja dengan melakukan promosi kesehatan, bimbingan
konseling agar remaja menyadari betapa pentingnya kesehatan dalam dirinya
sendiri.
3.2 SARAN
Dalam menghadapi perkembangan zaman seperti ini
kita sebagai tenaga kesehatan harus
mampu memberikan contoh yang baik kepada remaja, dan dapat menjadi teman atau
sahabat yang baik bagi remaja dalam memberikan dorongan agar remaja tidak
melakukan penyimpangan yang dapat merusak masa depan mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Ananto
, Purnomo.dkk. 2004. Pedoman Pelatihan Dan Modul Pendidikan Kecakapan Hidup
( Life Skills Education). Jakarta : Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani
Departemen Pendidikan Nasional
Departemen
Kesehatan RI.1993. Pedoman Pelatihan Kader Kesehatan Remaja Di Sekolah
Tingkat Lanjut.Jakarta : Departemen Kesehatan.
Tim
Penulis Poltekkes Depkes.2010. Kesehatan Remaja Problem Dan Solusinya. Jakarta:
Salemba medika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar